Hai kamu, gimana kabarnya?
Hai kamu, gimana kabarnya?
Saya mau cerita, beberapa bulan ini, saya memutuskan untuk mengurangi waktu saya bermain social media. Hingga kemudian, saya terpikir untuk membuat file untuk memuat banyak brain dumps yang tiba-tiba suka muncul di waktu-waktu tak terduga. Awalnya saya buat di handphone saja, sampai akhirnya saya tertarik untuk mengelompokkannya di googlesheet. Barangkali di sini ada yang tahu, aplikasi yang enak buat ngumpulin scattered ideas, boleh dishare di kolom komen ya!
Niatnya, sekumpulan dari brain dumps itu akan saya buat komik singkat, atau tulisan di blog baru ini. Kemudian, dari beberapa ide itu, ada satu hal yang menarik buat saya tulis. Dan kayaknya ini relate buat beberapa orang usia 35-an tahun. Ini adalah brain dump pertama saya yang akan saya tulis. Kenapa saya memilih di blog? Sesimpel karena saya kangen ngeblog aja hehe. Kedua, jika saya ngepost di social media, akan terlalu panjang jika dibuat caption.
* * *
Semakin tua, kita seringkali cling to the past, tanpa menyadari bahwa seiring berjalannya waktu, things have changed, technology develops faster, kemudian mau-nggak-mau, suka-nggak-suka, people have to adapt. Dulu, saya sering berpikir, kenapa orang-orang tua memilih mempertahankan ponsel jadulnya, mobil tuanya, atau sesimpel nggak mau pakai tv dengan tombol remot yang kompleks. Bukan semata karena ada unsur memori dan kenangan yang bermain di situ, tapi yaa karena semakin tua, keinginan kita buat adaptasi tuh menurun. Ya nggak sih? Kalau saya sih, mulai merasa demikian.
Ada satu percakapan yang membuat saya sadar, "Lho iya ya, saya nggak paham lho kalo sekarang modelnya begitu?". Jadi, waktu itu saya dan teman kantor saya lagi ngobrol, kemudian di suatu topik saya merasa nggak bisa catch up the story, lalu teman saya bertanya, "Ca, kamu kok nggak tahu kalo si X udah punya pacar? Kan suka diupdate di instagram story?." Jeng-jeng-jeng! Jadi sekarang semua update informasi personal dilakukan di sana ya? Saya, sebagai orang yang sedang mengurangi social media, merasa: "Ah, kalo saya stop social media sama sekali, apakah itu artinya saya akan kehilangan banyak koneksi/pertemanan?."
Sampai akhirnya saya berpikir, ah enggak juga lho. Yang penting kan kita tetap keep contact sama orang-orang terkasih. Saya punya beberapa kenalan (sedikit sih) yang sampai saat ini konsisten tidak punya akun social media. Buat saya, itu keren sih. Karena memiliki social media atau tidak, they still gain my respect. Ya meskipun agak repot untuk saling keeping up the stories or daily life, karena kebanyakan dari mereka nggak saya temui setiap hari.
Tapi entah kenapa, pikiran ini terus mengganggu saya. Akhirnya karena saya jarang berkontak dengan teman-teman, saya sempatkan untuk mengintip stories atau instagram mereka. Melihat beberapa postingan mereka, saya merasa senang, karena toh ternyata mereka masih hidup dengan baik dan bahagia. Pasalnya, pasca COVID, saya mengalami rasa takut dan khawatir jika ada teman yang meninggal dunia. Hingga akhirnya, beberapa bulan kemarin, saya merasa, apakah ketakutan saya itu wajar? Apakah nantinya jika saya nggak ada, akan ada yang merasakan itu juga? Kemudian saya teringat video wawancara Keanu Reeves ini:
Iya, perasaan aneh itu muncul saat saya blogwalking alias jalan-jalan di blog yang saya follow di dashboard blogspot saya. Sebagian akun masih aktif minimal 1 tahun sekali, namun ada juga yang sudah tidak lagi aktif sejak 2014, dan bahkan ada juga yang sudah dihapus. Ini mungkin ya rasanya, rindu membaca tulisan di blog orang. Rindu sensasinya meninggalkan pesan/komen di blog orang. Apakah mereka baik-baik saja? Sebagian bisa saya cari di social media, namun ada juga yang saya bahkan nggak punya kontaknya, kontak saya terakhir dengannya di social media kayaknya sudah lebih dari 5 tahun lalu.
Saya berdoa mereka semua, dan kamu yang mampir di blog ini, baik-baik saja dan bahagia ya :)
Comments
Post a Comment