Menjadi sepi di dunia yang ramai
Kenapa saya tiba-tiba merindukan iklim di mana banyak teman saya masih sering bertegur sapa via blog? Saya rasa, sekarang gen Z pun tidak tahu apa artinya blogwalking, merasakan betapa bahagianya menyelami pikiran orang lain melalui tulisannya, sekedar bertegur sapa dan bertukar link blog. Kemudian, rasanya bangga sekali jika link blog kita disematkan di blog orang lain. Pada saat itu, "berteman" perlu banyak effort.
Saya sempat mengamati diskusi warganet tentang low maintenance friendship, dan berpikir bahwa, "Wah, selama ini, saya termasuk teman yang seperti apa ya?" lalu, terbersit pikiran seperti ini: "Apakah adil, jika saya memperlakukan teman saya secara low maintenance, kemudian saya berharap dia tetap melakukan pertemanan yang setara dengan yang saya harapkan?" Saya rasa, tidak.
Pertemanan harus mutual, saya percaya itu. Jadi ketika saya merasa "kehilangan" seseorang, orang yang paling pertama yang harus saya tunjuk yaa diri saya sendiri. Saya bertanggungjawab atas dampak atas apa yang terjadi pada diri saya. Belakangan, saya sempat tertarik untuk membaca terkait friendship breakups (yang katanya lebih menyakitkan daripada putus cinta), namun saya urungkan. Sepertinya saya "takut" untuk menghadapi kenyataan bahwa putus pertemanan memang lebih menyakitkan daripada putus cinta dan (apalagi) sakit gigi.
Saya mengalami beberapa kali kondisi yang kurang menyenangkan, yang membuat saya menarik diri dari teman, karena saya bukan tipikal orang yang dengan mudahnya menceritakan keresahan batin. Saya merasa, somehow I also share my negative energy too when I tell my friend about my feelings. Thus I avoided it. I'd become very wistful, alienated myself from everyone. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk muted everyone I knew on social media. Dan puncaknya adalah, saya left from a lot of whatsapp groups I'm in. Saya masih menyisakan beberapa grup whatsapp, tentu saja yang ada kaitannya dengan pekerjaan dan teman kantor (karena saya masih ingin terlihat baik-baik saja kok). Dan oh ya, saya masih menyisakan satu dua grup dari pertemanan sekolah yang memang masih rutin berkontak dan selalu berkontak hingga saat ini. Sisanya, saya tinggalkan semua.
Pada saat itu, pikiran saya adalah: "Saya kecewa karena tidak banyak teman yang saling berkontak dengan saya. Do they even bothered enough to care (about me)? I wanted to know how's your life has been? Sharing the struggles, the ups and downs? Saya capek mengusahakan diri saya untuk menanyakan kabar lebih dulu. Saya hanya akan mempertahankan orang-orang yang memang ingin punya mutual relationship dengan saya." Dan boom! Saya meninggalkan grup. Bagi orang lain, mungkin terlihat sangat aneh, karena saya pergi tanpa closure. Tapi untuk saya (pada saat itu), saya sedang menyelami perasaan saya, memilah apa yang perlu dan tidak perlu dicerna, dan bagi saya, pengalaman saya ini valid dan dapat dialami siapapun di dunia maya. Sapa dan tawa canda secara virtual, saling berkontak dengan membubuhkan icon 💓,👍, 😂,😢, dan 😭, atau stiker sebagai bentuk empati. Sungguh ramai namun terasa sepi. Semua komunikasi dilakukan di grup, dan tidak ada lagi pendekatan personal. Saya sendiri merasa, untuk apa tergabung di dalam grup, anyway? Apakah eksistensi pertemanan adalah ketika kita tergabung bersama di dalam satu grup?
Jadi...ya, setelah dipikir-pikir, saya bukan penganut low maintenance friendship. Naif sekali jika dipikirkan, karena saya sendiri juga tidak cukup berusaha untuk mempertahankan pertemanan. Tapi dengan keluar dari banyak grup tersebut, saya jadi belajar, memang pertemanan adalah seleksi alam. Manusia terus bertumbuh, dan masing-masing dari kita akan bertumbuh ke arah yang berbeda. Sebagian dari kita akan meninggalkan kesan satu sama lain, tapi kita tidak bisa berbohong, bahwa sebagian besar teman kita hanya lewat dan dilupakan. Jika kamu dan saya termasuk dari sebagian orang yang dilupakan, yaa tidak apa-apa, karena ada kalanya giliran kita sendiri yang luput menanyakan kabar teman. Vice versa. Dan buat saya, itu manusiawi.
Perlu waktu hingga setahun lebih saya meninggalkan grup, sampai ada teman yang sadar atau menghubungi duluan. Dan ada juga yang akhirnya saya duluan yang menyapa. Iya, saya tidak bisa bersikap acuh seperti itu, karena walau bagaimanapun, kami pernah melewati masa muda dan senang bersama. Supaya saya punya closure, saya ungkapkan saja dengan jujur, bahwa saya memang meninggalkan grup dengan sadar karena kondisi psikologis saya. Hal yang mengubah hidup saya saat ini adalah, saat ini saya sudah lebih dewasa, saya sudah tidak mengharapkan respon lagi. Mungkin inilah saatnya saya menerapkan dikotomi kendali. You can't control anything beyond your control.
Setiap orang punya kesibukannya sendiri, dan harusnya itu tidak menjadi masalah buat saya. Toh pada saatnya nanti, saya juga akan sibuk dengan diri saya sendiri. Kondisi ini yang menyadarkan saya bahwa, untuk saat ini sahabat terbaik untuk berbagi resah untuk saya yaa tak lain tak bukan adalah psikolog. Saya sempat rutin konsultasi di medio 2018 sampai 2019, dan akhirnya memutuskan berpindah psikolog di 2024, dan melakukan konsultasi bersama-sama suami. Mengobrol dengan psikolog memang menyenangkan dan menenangkan. Mereka dapat memandang permasalahan secara objektif, memberikan gambaran dan membukakan pikiran saya tentang bagaimana semestinya saya menyikapi hidup, karena mereka punya ilmunya. Saya tidak perlu khawatir jika saya menangis dan meraung-raung di depan psikolog, bahwa itu akan membebani pikiran mereka, dan mempengaruhi pandangan mereka akan saya. Mereka profesional, dan dibayar untuk itu. Sungguh miris, karena saya tidak punya orang terdekat untuk cerita, dan saya harus membayar mahal untuk mendapatkan itu. Saya tidak punya teman yang membuat saya cukup tenang tampil vulnerable di depan mereka. Saya tidak punya ruang aman untuk menampilkan diri saya seutuhnya.
Kemudian, saya belajar untuk mencoba menampilkan diri saya (dan kerapuhan saya) di depan suami. Saya beruntung memiliki suami yang menerima saya beserta keresahan yang seabreg itu, dan mau menemani saya ke psikolog serta berkomitmen untuk tumbuh bersama-sama. Saya tidak tahu, karma baik apa yang pernah saya perbuat di masa lalu, sehingga saya mendapatkan sosok suami yang sangat suportif (yah, meskipun di beberapa sisi harus ada saling penyesuaian ego masing-masing, tentu saja). Dan dengan suami sayalah, saya yakin saya bisa berteman dengan diri saya seumur hidup saya, dan menemukan ruang aman kembali.
Saya merasa, dunia begitu complicated di saat semuanya bisa ditempuh hanya dengan sejentik jemari saja. Seharusnya, internet membuat semuanya lebih mudah, mendekatkan yang jauh. Namun yang saya rasakan sedikit berbeda, saya justru merasa internet sebagai surga bagi orang-orang yang overly curious untuk sekedar mencari tahu kehidupan orang lain, dan menjadi pengalihan bagi orang-orang kesepian seperti saya. Internet sempat membuat saya menjadi golongan yang pertama, selalu merasa fear of missing out. Saya kerap membandingkan diri saya dengan orang lain. Comparison is the thief of joy, itu benar adanya.
Saya lupa tepatnya kapan saya akhirnya memutuskan untuk mengurangi konsumsi internet, dan mengisi serta menghidupi hidup sebagaimana seharusnya. Saya mulai mengunjungi perpustakaan. Saya mengisi waktu dengan mengikuti aneka rupa kursus baik online maupun offline. Saya mengikuti walking tour. Saya memaksa diri untuk keluar dari zona nyaman saya yang terlalu penyendiri, agar bisa memanfaatkan sebaik-baiknya momen bersama orang terkasih, orang-orang yang saya rasa, setidaknya, punya mutual connection, mutual feelings, untuk saya. Saya masih tetap punya akun media sosial, namun saya lebih bijak menyikapi relasi di dalamnya. Saya tidak lagi baper jika ada teman yang berkumpul tanpa mengajak saya, tidak follow-back, meng-hide, atau jika tidak ada yang menanggapi unggahan saya. Karena barangkali saya juga dipandang demikian oleh orang lain, bukan? Fair enough.
Maka kini saya memilih untuk menjadikan media sosial sebagai instrumen saya untuk showcasing my art journey, atau kata Raditya Dika, konten kita adalah keresahan kita. Maka media sosial saya, adalah tempat saya mencurahkan keresahan lewat karya. Dan saya harus menerima, jika tidak semua orang menyukai karya saya, and that's okay. Karya kita, diri kita, akan berharga di orang dan waktu yang tepat. Dan bagi saya, di dunia internet yang sangat riuh ini, akan sangat melelahkan jika we're investing too much feelings and assumptions on it. Di dunia internet yang ramai, riuh, dan bergantung pada alogaritma ini, unggahan teman kita mungkin tidak setiap saat muncul di feed, karena ia hanya akan menampilkan unggahan dari akun yang sering berinteraksi dengan kita. Barangkali ada teman yang terlewat, saya tidak tahu. Tapi sesekali waktu, saya akan menyempatkan untuk melihat, barangkali untuk bertanya, "Eh, masih hidup lo?" Hahaha. Eh tapi serius deh, jika saya melewatkan sesuatu, tegur saja ya!
Anyway, usia 35-an membuat saya belajar banyak. Kini saya tidak lagi memilih pertemanan dari jenis musik atau band yang saya gemari lagi, dari selera makanan, atau karena kami sering nyambung saat bercanda bersama. Bagi saya, teman tidak perlu lagi menuntut adanya kesamaan. Seperti yang saya katakan tadi, manusia bertumbuh, dan kita semua bisa saja grow apart. Tapi teman yang baik adalah teman yang tidak akan melewatkan waktu untuk memberi tahu temannya momen penting, dan akan dengan senang hati hadir di momen penting temannya. Itu saja, sudah cukup bagi saya.
Kalau kata teman kantor saya, "Lo salah sih Cha, cari temen karena merasa punya kesamaan dan kedekatan selera. Lo pikir dengan lo merasa dekat sama dia, dia akan merasakan yang sama? Dan dengan lo dekat dengan satu orang di kelompok itu, itu akan membuat lo akan dekat dengan yang lain? Lo harus ada effort untuk berteman sama yang lain juga." Betul juga ya, pertemanan di dunia internet yang masif ini, kedekatan tidak bisa diukur dari berapa banyaknya jumlah likes dan komentar. Harus ada effort lain yang mempertahankan itu.
Dan ya, sejak itu, saya mencoba mulai hadir di momen penting teman terdekat. Sekiranya dia terlihat bahagia dan tulus, membukakan pintu dan ruang tamunya untuk saya, mempersilahkan saya duduk dan mencicipi kudapannya, membagi kisahnya dengan saya, maka kepada dia lah saya percayakan token pertemanan ini. Namun jika tidak, ya tidak apa-apa. Setidaknya saya tahu batasan yang bisa saya terima, sehingga saya tidak lagi tenggelam dalam kekecewaan.
Jadi, di dunia internet yang ramai ini, apakah kamu pernah menyepi?
Comments
Post a Comment